Badan penanggulangan bencana Bali mendesak kewaspadaan karena banjir memicu bunyi sirene

Denpasar, Bali (ANTARA) – Badan Penanggulangan Bencana Bali mendesak warga di dekat sirene banjir untuk memperhatikan peringatan setelah banjir semalam, karena sungai-sungai meluap menyusul tiga hari berturut-turut hujan lebat di seluruh pulau.

Warga yang tinggal di sepanjang sungai Tukad Badung harus memantau dengan saksama peringatan sirene dan kenaikan permukaan air, kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Bali I Gede Agung Teja Bhusana di Denpasar pada Selasa.

Meskipun sirene banjir hanya dipasang di enam lokasi, alat ini dapat membantu mencegah korban jiwa, katanya, merujuk pada banjir besar pada September 2025.

Sejauh ini, sirene telah menunjukkan air naik ke level satu dan dua, yang masih di bawah peringatan tertinggi ketika sungai meluap.

“Sirene berfungsi dengan baik. Berbunyi pukul 3 pagi dan lagi sekitar pukul 8:30 pagi, artinya permukaan sungai naik lagi,” katanya.

Warga di daerah tanpa sirene diimbau untuk tetap waspada dan aktif memantau kondisi sekitarnya, tambahnya.

Banjir setelah 72 jam hujan berturut-turut sebagian besar terjadi di luar zona yang dilengkapi sirene, meskipun Denpasar tetap menjadi daerah yang paling terdampak.

Dari Senin sore hingga Selasa pagi, pihak berwenang mencatat 23 kejadian di Denpasar, sebagian besar banjir, tujuh di Badung, lima di Gianyar, empat di Buleleng, dan masing-masing satu di Tabanan dan Klungkung.

Hujan lebat dan angin kencang telah melanda seluruh provinsi Bali sejak Sabtu malam dan masih berlanjut, kata para pejabat.

Di Denpasar, tornado menghantam Padangsambian Kelod, sementara banjir di beberapa lokasi mencapai ketinggian antara 40 dan 80 sentimeter.

Banjir mencapai 80 sentimeter di Jalan Griya Anyar menuju Simpang Dewa Ruci, 50 sentimeter di Jalan By Pass Ngurah Rai di Sanur, dan 50 sentimeter di Jalan Hangtuah di Sanur, katanya.

Mengutip badan meteorologi, Bhusana mengatakan hujan dan angin kencang diperkirakan akan terus berlanjut, dengan peringatan di Denpasar, Bangli, Buleleng, Gianyar, Karangasem, dan Klungkung.

Wayan Sumarni, seorang pedagang di Pasar Badung di Denpasar tempat sirene dipasang, mengatakan sistem tersebut membantu para pedagang mengantisipasi naiknya air di sepanjang sungai Tukad Badung.

Ia melanjutkan berjualan barang pada Selasa pagi karena alarm hanya menyerukan kewaspadaan dan menjauhi tepi sungai.

“Alarm itu sangat membantu. Setelah tiga hari hujan, alarm berbunyi pukul 3 pagi dan menyuruh kami untuk tetap waspada, tetapi tidak ada evakuasi karena air belum meluap,” katanya.

-Antara