Lubang Aceh Tengah Besar Disebabkan Longsor, Bukan Lubang Pembuangan — Badan Riset
JAKARTA, 24 Feb (Bernama) — Rongga besar yang membentang lebih dari 30.000 meter persegi, kira-kira setara dengan empat hingga lima lapangan sepak bola dan mencapai kedalaman hingga 100 meter di Aceh Tengah, adalah hasil dari proses longsor dan bukan lubang pembuangan, kata Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia.
Kepala Pusat Penelitian Bencana Geologi BRIN Adrin Tohari mengatakan lubang yang meluas di Kampung Pondok Balik telah menarik perhatian publik karena meningkatnya ukuran dan kedalamannya dengan beberapa penduduk dan laporan media menyamakannya dengan lubang pembuangan yang terlihat di tempat lain.
Namun, dia mengatakan struktur geologi daerah tersebut tidak mendukung formasi sinkhole klasik, yang biasanya terjadi di medan batu kapur.
“Apa yang terjadi di Aceh Tengah sebenarnya adalah fenomena longsor, bukan lubang pembuangan. Lapisan tufnya tidak padat dan memiliki kekuatan yang rendah, sehingga mudah terkikis dan rawan runtuh,” katanya seperti dikutip dalam keterangan yang dikeluarkan BRIN, Sabtu.
Adrin menjelaskan, daerah tersebut terdiri dari endapan aliran piroklastik berupa tuf dari aktivitas masa lalu Gunung Geurendong yang sudah tidak aktif lagi, dan materialnya secara geologis masih muda dan belum mengalami pemadatan penuh, sehingga rapuh dan rentan gagal.
Dia mencatat bahwa citra satelit dari Google Earth sejak 2010 telah menunjukkan lembah kecil atau ngarai di situs tersebut dan seiring waktu, erosi dan tanah longsor berulang melebar dan memanjangkan depresi hingga membentuk rongga besar yang terlihat saat ini.
Dia mengatakan gempa berkekuatan 6,2 skala Richter yang melanda Aceh Tengah pada tahun 2013 kemungkinan melemahkan struktur lereng, sementara curah hujan lebat semakin mempercepat proses, karena batuan tuf yang rapuh menjadi mudah jenuh dan kehilangan kohesi.
Adrin menekankan bahwa fenomena itu tidak terjadi secara tiba-tiba tetapi berkembang selama puluhan hingga ratusan tahun dengan gempa bumi dan curah hujan bertindak sebagai faktor percepatan dalam pembentukan alami lembah atau ngarai.
Dia mencatat bahwa kondisi geologi serupa dapat ditemukan di daerah lain dengan formasi batuan vulkanik muda, mengutip Ngarai Sianok di Sumatera Barat, yang terbentuk melalui proses geologi jangka panjang yang terkait dengan aktivitas tektonik di sepanjang Patahan Sumatera Besar.
Oleh karena itu, dia menyerukan upaya mitigasi yang lebih baik, termasuk kontrol aliran air permukaan yang lebih ketat, zonasi bahaya yang jelas dan pemasangan sistem peringatan dini tanah longsor, sambil mendesak warga untuk tetap waspada terhadap tanda-tanda dini seperti retakan tanah atau penurunan tanah skala kecil.
“Peta kerentanan tanah longsor sudah ada, tetapi perlu diperbarui setelah insiden ini untuk meningkatkan akurasi dan penggunaan operasional. Prioritas sekarang adalah memahami prosesnya dan segera menerapkan langkah-langkah mitigasi untuk mencegah korban jiwa,” tambahnya.
— BERNAMA



