Polemik Program MBG dari Solusi Stunting ke Krisis Kepercayaan Publik

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu asta cita Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran, yang digagas sebagai salah satu strategi pemerintah dalam meningkatkan gizi anak bangsa dan menurunkan angka stunting.

Anak sekolah dari PAUD hingga SMA/sederajat menjadi target penerima program MBG. Selain itu, ibu hamil, balita dan ibu menyusui menjadi target penerima MBG. Program ini dilaksanakan secara bertahap di 38 provinsi.

Program ini dipandang dapat menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui penyediaan bahan baku makanan MBG.

Presiden Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta pernah memberikan klaim bahwa persentase keberhasilan program MBG adalah 99.99 persen.

Namun, faktanya hingga akhir september 2025 lebih dari 5 ribu orang yang tersebar dari beberapa daerah menjadi korban keracunan MBG, hal ini berdasarkan laporan Badan Gizi Nasional (BGN), Kementerian Kesehatan, serta BPOM.

Situasi tersebut membuat kekhawatiran dan kepercayaan publik terhadap MBG melemah ketika Kantor Staf Presiden (KSP) merilis bahwa dari 8.549 SPPG atau dapur MBG hanya 34 yang telah memiliki Sertifikasi Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS).

Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan, pelaksanaan, dan sistem pengawasan MBG. Tanpa langkah konkret ini, program yang sejatinya merupakan program unggulan pemerintah, yang dirancang untuk kesejahteraan masyarakat justru berisiko menimbulkan masalah baru yang merugikan publik.