Whoosh Boncos: Pendapatan Kereta Cepat Tak Cukup Bayar Bunga Utang

Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau yang dikenal sebagai Whoosh menghadapi tantangan finansial serius. Pendapatan tahunan dari penjualan tiket kereta cepat ini dilaporkan tidak mencukupi untuk menutupi pembayaran bunga utang yang mencapai hampir Rp2 triliun per tahun.

Menurut pengamat ekonomi Anthony Budiawan, pendapatan kotor dari penjualan tiket Whoosh diperkirakan sekitar Rp1,5 triliun per tahun, dengan asumsi 6,06 juta tiket terjual pada tahun 2024 dan harga rata-rata tiket sebesar Rp250.000. Namun, angka ini masih di bawah beban bunga tahunan yang mencapai sekitar Rp2 triliun, belum termasuk biaya operasional lainnya seperti listrik, perawatan, dan gaji karyawan.

Proyek KCJB awalnya diperkirakan menelan biaya sebesar US$6,02 miliar, namun mengalami pembengkakan sebesar US$1,2 miliar, sehingga total biaya investasi mencapai US$7,22 miliar atau sekitar Rp112 triliun. Sebanyak 75% dari biaya investasi tersebut dibiayai melalui pinjaman dari China Development Bank (CDB), dengan bunga berkisar antara 2% hingga 3,4% per tahun.

PT Kereta Api Indonesia (KAI) juga memberikan tanggapan bahwa sebagai pemimpin konsorsium BUMN dalam proyek merasa kesulitan dalam menyeimbangkan biaya operasional dengan kewajiban pembayaran utang. KAI telah meminta dukungan pemerintah, termasuk pembebasan biaya Infrastructure Maintenance and Operation (IMO), pajak, dan biaya penggunaan rel (Track Access Charge/TAC), untuk meringankan beban finansial.

Selain itu, beberapa ekonom memperkirakan bahwa proyek KCJB membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mencapai titik impas. Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), memprediksi bahwa balik modal bisa tercapai dalam waktu 70 tahun, dengan catatan bahwa kereta cepat beroperasi dengan kapasitas penuh setiap hari. Namun, jika mempertimbangkan biaya operasional dan perawatan, waktu yang dibutuhkan bisa lebih lama lagi.

Hingga saat ini, situasi keuangan proyek Kereta Cepat Whoosh menunjukkan bahwa pendapatan dari penjualan tiket saat ini belum mampu menutupi beban bunga utang yang signifikan. Dengan proyeksi balik modal yang sangat lama dan beban finansial yang berat, proyek ini menghadapi tantangan besar dalam mencapai keberlanjutan finansial tanpa dukungan tambahan dari pemerintah atau sumber pendapatan alternatif.